Tampilkan postingan dengan label Daily. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daily. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2014

Tokyo University of Foreign Studies: Dorm Room

Kali ini saya mau ngenalin tempat tinggal saya di Jepang selama satu tahun ke depan. Mungkin sebelumnya udah pernah saya jelasin, tapi saya jelasin ajalah lagi. Saya tinggal di universitas gitu, namanya Tokyo University of Foreign Studies (TUFS). Tapi saya belajarnya bukan di kuliah kampusnya, saya belajarnya di Japanese Language Center yang diperuntukkan buat mahasiswa-mahasiswa internasional. Saya tinggalnya di areal kampus juga, di International Hall Residences 1. Setelah masuk ke dalam kamar, kelihatannya kayak gini,


Rapi kan? Rapi kan? Rapi lah ya. Fasilitas di tiap kamar itu betul-betul lengkap, dari mulai mini kitchen beserta kulkas. 

 
Foto sebelah kiri itu dua minggu lalu, yang sebelah kanannya barusan aja. Meja sama lemarinya juga banyak dikasih, tapi lemarinya gak ada pintunya, jadi terbuka gitu semuanya. Di samping rak buku itu ada papan buat nempel-nempel. 

Di bawah saya jadiin tempat nyimpan baju


Kamar mandinya juga gak kalah mantap, terus di tiap kamar dikasih heater buat air panas. Jadi kalau mau mandi pakai air panas, nyalain heater dulu beberapa jam, nanti baru dipake. Menurut petuah salah satu senior, karena listrik di Jepang lebih mahal kalau siang-siang, kami disuruh ngidupin heater dari jam 11 malam sampe 7 pagi (kalau mau), dua hari atau tiga hari sekali. Listrik di sini memang kejam, kemarin tagihan listrik buat April baru datang dan saya kena 2.000 yen lebih buat listrik dua minggu.


Ini kasurnya, di atasnya ada AC-nya

Dan terakhir, di setiap kamar ada balkonnya. Biasanya dipakai buat jemur pakaian. Tapi kalau malas jemur baju juga gak papa sih, soalnya ada pengering baju pake koin yang harganya 100 yen buat 30 menit ngeringin baju. Mesin cucinya juga mesin cuci pake koin.


Yah gitu lah kamar asrama saya di sini. Bagus kan? Lebih bagus dari kos-kosan kan? Makanya, ayo ikut Monbu!

Jumat, 04 April 2014

First Fuchu "Bolang" Attempt

Halo kalian yang baca ini! Alhamdulillah saya sekarang udah di Jepang dan sebenarnya ada bejibun hal yang mau saya ceritain tapi yang siang ini aja dulu kali ya.

Sore tadi betul-betul bodoh. Jadi orientasi TUFS baru aja selesai. Orientasi yang sebagian besarnya cuma Hashimoto-san ngebacain ulang handouts yang udah dibagiin satu per satu ke setiap murid. Seharusnya ada seorang lagi yang nemanin Hashimoto-san buat nerjemahin, tapi orang itu berhalangan hadir. Tapi, bagus juga sebenarnya dibacain, semua murid jadi terpaksa ngebaca kertasnya dari awal sampai habis. Orientasi itu selesai kira-kira jam setengah lima sore. Beberapa dari mahasiswa Indonesia habis itu ngumpul gitu ngebahas buat jalan-jalan, yang ujung-ujungnya berakhir jadi wacana aja. Saya sendiri, ngelihat waktu kosong banyak akhirnya mutusin buat pergi aja sendiri ke toko yang mau saya datangin. Keputusan untuk ber-bolang pertama kalinya.

Kira-kira 25 menit akhirnya saya sampai di daerah yang namanya Musashi-sakai, cuma sekali naik kereta aja, jadi gak susah kalo dari TUFS. Di luar pintu utaranya stasiun itu, ada jalan kecil gitu yang kiri-kanannya penuh toko-toko. Kalo ke daerah Tokyo yang kayak Musashi-sakai ini bisa kelihatan kali bedanya Jepang sama Indonesia. Bukan beda yang udah jelas kayak teknologi atau transportasi ya. Tapi adil dalam pemerataan. Bayangin aja kalo Tokyo itu Medan, Musashi-sakai dan daerah sekitarnya itu kayak Tembung-nya Medan (Tembung itu jauh kali dari pusat kota Medan). Tapi biarpun daerah ini kayak Tembung, sarana transportasi, jalan-jalan, dan fasilitas publik dibuat sebaik mungkin dan gak kalah dari daerah sibuk kayak Shinjuku yang terkenal kali itu. Ya gitulah, cuma sekedar side note aja.

Ini stasiunnya Musashi-sakai.
Kira-kira 200 meter masuk ke jalan kecil tadi itu, akhirnya saya jumpa toko yang saya mau datangin. Toko serba 100 yen. Sayangnya toko-nya gak gitu besar kayak Daiso, jadi barang belanjaannya juga gak lengkap. Sempat ada kayak bingung gitu pas mau beli sapu. Pas mau bayar sapu-nya, si mas kasirnya tiba-tiba ngomong pake bahasa Jepang yang jelas saya gak ngerti sama sekalilah. Satu-satunya kata yang saya ngerti dari kalimat dia yang kurang lebih 15 kata itu adalah kata setto. Rupanya sapu-nya itu satu set sama serokannya dan harus beli dua-duanya jadi 200 yen. Saya mikirnya gak butuh serokan jadi saya ganti sapunya sama sapu yang bukan set, tapi sapu aja sendiri. Sebenarnya bukan gak butuh serokan sih, sebenarnya lebih ke pelit aja gak mau buang 100 yen buat serokan. Eh, pas mau bayar di kasir, tiba-tiba dia bilang kalo sapu yang single yang saya beli itu harganya udah 200 yen. Udah dipencetnya pulak di mesin kasir, mana mungkin lagi aku batalin. Kalau pun mau batalin, gak tahu juga bilangnya apa. Ya udah terakhir ikhlas aja sapunya yang 200 yen itu.

Selesai belanja, saya balik ke stasiun. Setahu saya, saya harus naik kereta yang berlawanan arah dengan arah Shinjuku buat balik ke daerah kampus. Dengan pede-nya saya masuk ke stasiun, nge-tap train pass ke mesin terus naik ke platform Chuo Line yang tujuan Takao. Cuma ada dua tangga di situ, yang satu Shinjuku, yang satu lagi Takao. Karena bukan Shinjuku, yah berarti tujuannya Takao-lah ya kan? Sampai di platform-nya saya ngebaca kalo pemberhentian selanjutnya kereta itu Higashi-Koganei. Padahal seingat saya seharusnya ke Shin-Koganei, bukan Higashi-Koganei. Tapi yah, kan gak ada platform lain selain yang dua ini, jadi mungkin ada nya itu jalannya buat ke Shin-Koganei. Pas keretanya datang, dengan polosnya saya masuk. Setengah perjalanan, saya sadar kalo itu tujuannya salah (karena pemberhentian selanjutnya juga bukan tujuan yang saya harus datangin), tapi saya masih gak tahu gimana caranya seharusnya pulang. Saya langsung turun pas keretanya berhenti dan ngambil kereta berlawanan buat balik lagi ke Musashi-sakai. Entah kenapa saya jadi senang gitu pas tahu kalau udah kesasar.

Ini maksudnya mesin tempat nge-tap train pass
Pas turun tangga di Musashi-sakai saya sadar kalau ternyata saya ada di jalur kereta yang salah. Jadi ada dua jalur yang lewat stasiun itu dan saya seharusnya ngambil yang satu lagi. Udah senanglah ceritanya karena udah tahu harus gimana buat pulang. Saya langsung cepat-cepat buat ke arah pulang masih sambil menjinjing sapu dan brush kamar mandi dan lain-lain. Waktu nge-tap train pass nya lagi, tiba-tiba mesinnya bilang error dan nyuruh buat nyari security-nya gitu. Saya langsung, "Loh?" Terus saya cobain lagi train pass di mesin yang lain dan masih error juga. Untung aja pos security-nya ada pas sebelahan sama mesin-nya dan untungnya lagi mas-mas yang jaga posnya bisa bahasa Inggris. Dia ngecek kartu saya buat lihat jalur yang udah saya naikin dan terus nyuruh saya buat lewat aja, gak perlu dipakai kartunya. Setelah itu kami berdua, yang dibantu dan membantu, sama-sama bilang, "Arigato gozaimasu." Nah setelah lewat dari pos itu ada mesin pembaca lainnya lagi yang harus pake kartu. Saya ngiranya gak perlu juga pake kartu-kartuan, jadi langsung asal lewat aja. Terus waktu lewat tiba-tiba mesinnya bunyi, "Beep beep!" dan muncul sepasang penghalang hijau nabrak ke badan saya. Gak sakit sih, tapi malunya....

Saya cepat-cepat mundur dan pakai train pass nya ke mesin, pokoknya langsung full tourist mode-lah, yang ceritanya gak ngerti apa-apa soal perkeretaan di Jepang. Saya bahkan gak ngelihat apa ada orang di sekeliling yang ngelihatin dan nertawain saya. Cepat-cepat saya langsung naik ke kereta dan balik ke kampus.


Jumat, 07 Maret 2014

Just Right Around the Corner


The picture has nothing to do with the rest of this. It's not mine, I took it from deviantART.

Well, the embassy has fixed the departure date and it will be on the 1st of April. Yes, the departure is right around the corner, less than a month actually. Uuuuuuggghh, it feels good and bad in the same time. It feels good knowing that I'll be living the dream (my dream), but it feels bad that I'll be leaving and not meeting everyone anymore. It's confusing whether to say, "Uuuuugggghh," then sob then reminisce or to laugh and be happy. But it'll be also wrong to feel nothing.

In conclusion, there will be no more talks about this subject until I have arrived there. I even try not to mention the place. If you're confused about what the word 'there' refers to, then you'll have to learn Bahasa (if you haven't) and read my previous posts. 

I just talk about what's going on lately. My life for the past few months has been extremely not productive. It was a series of skipping classes. I'm not sure if I have missed physics 6 times or 7 times, but in either case it isn't a good number. There was also the electric circuit subject that I've missed (on purpose) for 3 or 4 times, yet my friend still asks to see my homework.

I've also used my time poorly lately. Slept late on daily basis, where 00.00 a.m. is considered very fast. Spent approximately 6 hours or more everyday to watch TV series or movies or dramas or play games. Every time I watched an episode, then I'll be downloading the next episode on the same time. Then when the episode I was watching finished, then I could just continue to the next episode. Anyway, I'm currently into Brooklyn Nine-Nine.

[Those who read this may find that this particular post is trash, then I advise you to stop reading and close the tab or use the tab for more useful websites]

Fortunately there is one useful thing that I've been doing for the last few months. At least I'm not totally useless, I've been participating in the campus' president election committee. The committee has been a great way to meet a lot of people from other faculties, including seniors that I would never know if I hadn't joined the committee. I'm in the campaign division of the committee and until last Tuesday, I had to stay at the campus until 11 pm almost every night for candidates hearing. Not every night actually, I was absent from last week's Thursday until Monday. 

The cause of absence was attending the Java Jazz Festival. Uuuu yeah! What a great time, though I won't tell anything about it. Actually people can watch it via television. There was this strange channel that showed several performances. But still, nothing beats watching live concert huh? So here's a small part of Mind Trick directly from Jamie Cullum himself. BAHAHAHAHAHA.