Selasa, 01 Juli 2014

Seperempat Tahun Kemudian

Hari ini tepat 3 bulan setelah sampai di sini. Apa aja yang udah berubah? Tons of things udah berubah, terutama kalau berhubungan dengan uang.

Jalan-jalan. Dulu, waktu masih bulan pertama, dalam seminggu bisa sampe empat-lima kali ninggalin kampus buat pergi entah ke mana. Suka-suka aja pergi kemana-mana gak kenal waktu. Waktu itu, biaya kereta mah gak peduli sama sekali. Hari ini isi kartu 1000 yen (110.000 rupiah), habis, besok isi lagi 1000 yen, habis lagi, beberapa hari kemudian isi lagi 1000 yen. 
Kalau sekarang? Senin sampai Jumat cuma bisa ngeram di kamar. Perjalanannya cuma asrama, kelas, konbini (convenience store) seberang kampus, sama kantin. Bahkan buat belanja ke supermarket yang lengkap dan murah suka diundur-undur sampe Sabtu atau Minggu, pas kebetulan lagi di luar, soalnya gak mau bayar biaya kereta ke supermarketnya. Kalau sekarang, diusahain cuma ngisi kartu buat naik kereta 1000 yen per minggu. 2000 yen udah paling parah kalau memang Sabtu dan Minggu dua-duanya jalan-jalan. Buat bisa menghemat, saya rela-relain naik kereta dari stasiun yang jaraknya 15 menit jalan kaki dari kampus. Padahal ada stasiun dekat kampus yang kepeleset juga udah sampe, tapi yah, kan mau ngemat. Karena itu, setiap jalan-jalan sekarang selalu diusahain buat berangkat sepagi mungkin dan pulang semalam mungkin = biar gak rugi.

Makan. Pas masih bulan pertama, makan itu selalu sembarangan milihnya, bukan babi kok, maksudnya sembarangan aja gak lihat-lihat harga. Kalau jalan-jalan, makannya sushi yang gak buat kenyang dan mahal. Kalau makan malam, beli bento dekat stasiun yang kisaran harganya diatas 40.000 rupiah semua.

Terpaksa masak
Kalau sekarang? Setiap malam harus masak nasi sendiri, soalnya nasi di sini harganya sesuatu sekali. Semangkok yang ukuran besar, yang bagi orang Indonesia tidak besar, bisa hampir 20.000 rupiah. Makan pagi disederhanakan, nasi tambah telur atau nasi goreng atau roti tambah susu segelas. Makan siang hampir selalu di kantin. Nasi selalu bawa sendiri, jadi di kantin biasanya tinggal beli lauk sama sayur yang totalnya biasanya 30.000 rupiah tiap hari. Terus kalau makan malam diusahain masak sendiri, dan kalau malas, beli lauk dari kantin lagi. Intinya sekarang pengeluaran buat makan perhari yang biasanya 1000 yen jadi antara 300-500 yen. Bahkan karena sekarang lagi puasa, dalam sehari kadang gak ngeluarin duit sama sekali karena masak sendiri. 

Pelajaran Bahasa (dan pelajaran lain-lain). Menurut saya, ini yang paling kejam di antara semuanya. Jadi bahasa Jepang yang aku bakalan belajar di sini ada tiga tingkat: 初級 (shokyū) = beginner, 中級 (chūkyū) = intermediate, 上級 (jokyū) = advanced. Kata teman yang kuliah di Sastra Jepang waktu di Indonesia, tiga-tiganya butuh waktu 4 tahun di universitas di Indonesia. Tapi di sekolah bahasa ini, tiga-tiganya harus selesai dalam 1 tahun. Dan karena ada tiga trimester di sini, jadi setiap trimester harus selesai satu. Sekarang walaupun belum selesai trimester musim semi, tapi karena pelajaran shokyu udah selesai, langsung diajarinlah chukyu-nya biar hemat waktu. Ini perbandingan sederhana pelajaran pertama antara keduanya,
Shokyū : わたしはルスファンです (Nama saya Luthfan)
Chukyū : 夏目漱石は、小説家として有名が、みなさんと同じように1900年に文部省の国費留学生として、イギリスで3年間勉強した (Silahkan gunakan Google)

Selain itu sekarang juga udah mulai belajar IPA. Ujian akhir juga tinggal seminggu lagi, 

Bahan ujian!
Pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah as in cuci baju, masak, dsb. Waktu pertama-tama jelas excited kalau nanti bakalan mandiri. Mandi sendiri, masak sendiri, bersihin kamar sendiri, biayain diri sendiri (well, yang ini memang seru), cuci baju sendiri, jemur pakaian sendiri, dan jangan lupa, lipat pakaian sendiri. Pas masih awal-awal memang enak, pelajaran sedikit dan waktu luang banyak. Tapi sekarang? Cuma bisa berharap jemuran terbang masuk kamar dan ngelipat sendiri, air dari keran nyala sendiri dan piringnya bersih sendiri. Yah gitulah.

Puasa. Iya, sekarang udah bulan puasa. Ini yang pertama kali gak sama orang tua, udah gitu jauh lagi tempatnya. Walaupun gitu, selamat menjalankan puasa! Selamat berpuasa dari jam 2.40 pagi sampai 7.00 malam! Marhaban ya Ramadhan!

Sabtu, 31 Mei 2014

What Have You Done to May?

Antara kerasa sama gak kerasa, udah mau dua bulan di sini. Selama sebulan terakhir ini, antara postingan terakhir sama postingan yang baru ini, ternyata ada banyak yang udah saya alamin, sampe shock sendiri ngelihat foto di hape kok segini banyaknya ya. So, let the pictures do the talking.


Beberapa minggu yang lalu, semua mahasiswa pre-undergraduate dibawa jalan-jalan ke Fuchu Folk Museum, mengenai kehidupan jaman dulu di Jepang gitu. Tapi, karena guidenya full ngomong pake bahasa Jepang, yah gak gitu dapat apa-apa. Tsugi!



Foto-foto yang di atas ini waktu Golden Week. Jadi kalau di Jepang itu, dari tanggal 3 Mei sampai 6 Mei itu hari libur. Karena libur terus gitu, disebutnya Golden Week. Kalau udah Golden Week, kemana-mana pasti rame. Yaiyalah ya, hari Sabtu-Minggu biasa aja juga rame.

Waktu Golden Week ini saya sempat ke beberapa tempat. Pertama ke Ueno Zoo (上野動物園). Kebetulan hari itu lagi Midori no Hi (Green Day), jadi kalau masuk kebun binatang digratisin. Kebun binatangnya bagus, ada monorail-nya segala di dalamnya. Setelah dari kebun binatang ini, malamnya kami ke Kurayami Matsuri/Festival in the Darkness yang diadain di Okunitama Shrine (dekat dari kampus). Biarpun namanya 'in the Darkness', festival-nya gak ada dark-dark-nya sama sekali. Ini festivalnya kurang lebih kayak yang ada di komik-komik itu. Di sepanjang jalan masuk ke kuilnya, ada banyak stand-stand gitu. Takoyaki, okonomiyaki, yakisoba, gula kapas, jualan yoyo isi air, jualan topeng, yakitori, sampe rumah hantu juga ada. Udah rumah hantunya gak gitu seram, mahal lagi.



Besoknya, saya juga ke Tokyo Institute of Technology (Tokodai). Ada kompetisi Futsal yang diadain sama mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kuliah di Tokodai. Gak, saya gak ikut futsalnya. Habis dari Tokodai itu, siangnya ke Odaiba. Odaiba itu pulau buatan yang ada di Tokyo Bay. Kalau dihitung jaraknya dari TUFS, Odaiba itu jauh kali. Pulang pergi aja bisa kenak 1500 yen (lebih kurang 150 ribu rupiah). Jadi kan buat ke Odaiba itu nyeberang laut sedikit, dan hari itu saya naiknya kereta. Kirain waktu di dalam kereta nanti bisa ngelihat air di sekitarnya, ternyata nggak, keretanya lewat terowongan. Kecewa. Okesip, lanjut.

Odaiba itu penuh dengan mall. Mall yang kalau dimasukin, langsung terasa pulang ke mall-nya Indonesia. Ada beberapa landmark terkenal di Odaiba, ada Gundam raksasa yang kalau malam lampunya nyala dan kepalanya geleng-geleng. Terus ada juga Patung Liberty versi kecil.

Ini mahasiswa Indonesia aja.



Ini foto kelas. Saya dapat kelas E.
Terus ini kali ya. Tanggal 15 Mei ada acara Welcome Party dari pihak kampus. Salah satu kegiatan acaranya itu perkenalan setiap mahasiswa baru. Kalau negara lain itukan, biasanya kalau gak 3 orang, 4 orang. Tapikan kalau dari Indonesia tahun ini ada 16 orang. Jadi waktu perkenalan itu, kayak beda sendiri gitu. Negara lain cuma makan 2 atau 3 menit buat perkenalan, waktu Indonesia perkenalannya gak selesai-selesai. Biar cepat, perkenalannya juga dibuat pendek. Negara lain ngomongnya, "Watashi wa _(negara)__ kara kita, _(nama)_ desu. Dozo yoroshiku onegaishimasu!" Berhubung Indonesia rame, kenalannya jadi, "_(nama)_ desu. Dozo yoroshiku!"

Kami juga sempat nampil tari Saman seadanya. Banyak salahnya padahal, tapi tiap selesai satu rangkaian gerakan, semua yang lihat tepuk tangan. Waktu selesai, jadi terharu sendiri bisa pamerin budaya Indonesia ke orang-orang luar. Bahkan ada mahasiswa Indonesia yang ngambil S2, sampai nangis setelah kami selesai Saman. Alhamdulillah yang lihat juga pada kagum, bulak-balik bilang, "SUBARASHII!"dan sebagainya.

Well, itu dua minggu pertama Mei. Kemana sisanya? Sisanya dipake buat belajar.