Jumat, 15 Februari 2013

Di-ce-ko-ki Budaya

Assalamualaikum!

Kali ini saya masih ada sedikit cerita lagi dari Jepang, semoga anda-anda para pembaca mendapati tulisan ini cukup menarik. Untuk postingan ini saya pengen berbagi sikek mengenai kehidupan orang Jepang, gimana rasanya sebenarnya tinggal sama orang Jepang asli (walaupun cuma lima hari).


Bagaimana kalau kita mulai pengamatan dengan memperhatikan bentuk rumah. Kalau buat yang sering nonton Doraemon, pasti tahu kalau setelah buka pintu depan rumah, setiap orang musti copot sepatu sebelum masuk ke bagian rumah yang berlantai kayu. Hal yang sama juga saya temui waktu tinggal di keluarga angkat. Bedanya, setelah masuk di pintu depan, ada semacam toko foto gitu dulu, berhubung keluarga angkatnya usahanya itu, baru deh jumpa pintu buat masuk ke bagian tempat tinggalnya. Intinya, setiap masuk ke bagian tempat tinggal ini gak boleh pakai sepatu, wajib pakai sandal. Selain itu, buat yang baru pulang biasanya bakalan bilang tadaima sebelum masuk. Artinya sih "Aku pulang!" kira-kira.


Lanjut ke bagian kamar mandi rumah. Selama di sana, semua orang yang saya perhatikan selalu cuma mandi satu kali sehari dan mandinya itu malam-malam sebelum tidur. Satu orang mandi itu bisa makan waktu 30 menit. Bisa lama karena ada dua ritual mandi. Pertama adalah mandi biasa, yaitu sabunan dan sampoan. Ritual kedua adalah berendam di ofuro. Ofuro itu sebenarnya berendam air panas. Kalau di tempat tinggal saya waktu itu, kayaknya airnya dicampur entah apa lagi sampe airnya jadi warna biru gitu. Bedanya ofuro itu adalah di mana air itu tidak diganti setelah dipakai. Jadi airnya berbagi rame-rame. Kesannya memang jijik, cuma itulah tujuannya sebelum berendam kita harus mandi yang bersih dulu baru masuk ke dalam bathtub. Buat yang agak penasaran, ini ada gambarnya:




Jadi, pertama mandi dulu di bagian kanan. Kalau saya mandinya bahkan duduk di kursi. Baru dah masuk ke yang ada di sebelah kiri. Pokoknya kalau biasa di Medan mandi cuma 5-10 menit, di sana makan waktu lebih 30 menit. 
Satu hal unik lagi adalah gimana kamar mandi sama tempat cuci itu nyambung dan biasa dianggap jadi satu kesatuan. Jadi, kalau ada orang mandi, gak boleh masuk ke ruang cuci, karena ruang itu sekaligus jadi tempat ganti baju. Begitulah, pasang bajunya langsung setelah keluar kamar mandi, bukan di kamar tidur.

Karena udah nyinggung sedikit soal kamar tidur, saya lanjut langsung aja ke masalah kamar dan masalah tidur. Syukurnya selama di sana saya sempat nikmatin yang namanya futon dan beralaskan tatami. Futon itu kasur lipat, tiap mau tidur dipasang dulu, pas bangun dilipat balik. Lapisannya ada banyak, dari mulai ada yang tebal semacam kasur, terus ada yang macam jaring-jaring, terus dilapis selimut, baru ada lagi selimut untuk dipakai. Yang pasti hangatlah.
Selain itu, aturan penting untuk hemat listrik harus selalu dipatuhi di kamar tidur. Aturan ini menyangkut lampu, televisi dan AC. Karena lampunya bisa diatur intensitasnya, jadi waktu tidur lampu itu harus segelap mungkin, kalau bisa pun dibuat mati aja. Sedangkan televisi, jelas harus dimatikan kalau udah mau tidur. Yang agak beda itu di AC-nya. AC di sana buat panas bukan buat dingin, jadi AC itu betul-betul sedap dipakai, apalagi kayak semalam waktu lagi musim dingin. Pertama kali datang, ngiranya AC itu boleh aja dihidupin sepanjang malam, eh tiba-tiba pas paginya dimarahin sama ibu angkatnya karena biarin AC nyala semalaman. Ternyata, AC itu cuma boleh dipake kalau memang belum tidur aja. Kalau udah masuk ke kasur, AC harus mati. Harusnya yang kayak gini diterapin juga di Indonesia. Lumayan

Mungkin yang terakhir bisa saya bagiin adalah mengenai yang namanya makan di rumah. Nomor satu yang udah pasti adalah makannya pake sumpit. Mau makan nasi, makan mie, makan daging, ayam, buah, sayur umumnya semua selalu pakai sumpit, sekalipun sendok dan garpu sebenarnya ada juga disediakan. Makanan semuanya dipisah-pisah. Bakalan ada satu mangkok buat nasi, satu mangkok buat ikan dan satu mangkok untik setiap jenis makanan per orangnya. Jadi bisa aja kalau untuk makan satu orang ada lima mangkok disediakan, belum lagi lauk lauk lain yang biasanya dipisah, macem sashimi atau makanan yang sekadar direbus aja di meja makan.
Sebelum mulai makan, bilang itadakimasu dulu. Artinya kayak bilang "Saya akan makan!" tapi sekaligus juga bersyukur buat makanan yang udah disediakan. Oleh karena itulah, kalau makan harus sampai habis tidak bersisa. Hebatnya, hal yang kayak gini udah dipahami bahkan sama anak-anak kecil di sana. Contohnya ada sekali saya ngambil kue kebanyakan dan bersisa satu karena kenyang. Ada salah satu anak kecil yang nengok kue saya yang bersisa terus bilang "Bandel!". Karena kayak gitu, terpaksalah harus dihabiskan. Begitu juga waktu di rumah. Saya dikasih lauk semacam rumput laut dicampur sama kacang. Saya gak suka kacang, jadi saya habisin aja rumput lautnya. Eh tiba-tiba ketahuan sama orang tua angkat saya, alhasil dipaksa buat ngabisin kacangnya juga. Belum berakhir di situ, kalau udah selesai makan, orang Jepang bilang gochisosamadeshita yang sepertinya artinya juga ucapan terima kasih. Ngucapin ini juga bertindak sebagai kode buat ngasih tahu tuan rumah kalau kita udah siap makan.

Iyak, sampai di situ kali ini. Makasih udah sabar baca.


Wassalamualaikum!


Kamis, 07 Februari 2013

Sesendok Tokyo

Assalamua'alaikum!

Seperti yang sudah disebutkan di postingan sebelumnya, kali ini saya ingin sedikit berbagi cerita waktu di Jepang. Sekalipun interval dari postingan sebelumnya udah sangat jauh, mohon dimaklumi. Satu hal lagi. Karena saya bingung mau mulai dari mana, jadi saya buka dengan Tokyo dulu,


Kalau orang yang udah tahu Jepang, terus dengar kata airport, maka yang terpikir pertama kali adalah Narita. Dari dulu mikirnya kalau Narita itu ada di Tokyo, eh rupanya Narita itu macam Bandara Soekarno-Hatta. Kalau Soekarno-Hatta itu ada di Banten yang dekat Jekarta, maka Narita itu ada di Prefektur Chiba yang bersebelahan dengan Tokyo. Seingatnya waktu ngelihat papan di tepi jalan, jarak antara Narita ke Tokyo itu 50 km dan ditempuh kurang lebih antara 30 menit ke satu jam. Tokyo sendiri juga punya airport, namanya Haneda, dan saya sempat juga singgah di situ waktu balik ke Tokyo dari kota lain.


Tokyo itu ya kayak kota-kota negara maju. Buat yang sering nonton anime atau main game Jepang, udah miriplah itu sama situasi Tokyo. Bangunan yang rapat-rapat dan gak ada halamannya, trotoar yang lebar, jalan raya yang lebar, pohon yang tertata rapi, jalan yang bertingkat-tingkat, gedung-gedung yang berisi semacam rumah susun, dsb. Oh iya, macam di Jakarta yang ada Indomaret dan kawan-kawan, Tokyo punya FamilyMart, Lawson sama 7Eleven. Hebatnya, kayak Lawson itu bisa sampe ada di dalam hotel-hotel. Terus, kalau di TV sering ditunjukin gimana orang berbondong-bondong nyebrang jalan, itu memang betul. Bahkan gak cuma orang yang nyebrang, orang yang naik sepeda juga banyak.


Transportasi yang sempat kelihatan yah mobil pribadi, bus umum, kereta api, sepeda. Anehnya, susah kali nyari yang namanya sepeda motor di Tokyo. Yang namanya kereta Honda sama Yamaha yang berserakan di Indonesia tidak bisa ditemukan sebuahpun selama di sana. Kendaraan roda dua bermesin yang kelihatan selama di sana cuma motor gede sama motor delivery. Bicarain soal kereta, kereta api juga ada bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang jalurnya bentuknya beda, ada yang standar, dsb.


Apaan lagi ya? Ahh, toilet. Kata orang-orang, toilet di Jepang itu bentuknya aneh. Dan hal itu memang benar. Jadi kalau toilet yang pake closet itu, tombolnya luar biasa banyak. Ini saya cantumkan salah satu contoh:

Bisa dilihat di situ ada tombol buat mengeluarkan semacam suara. Jadi misalnya ada sedang ada urusan dengan sisa pencernaan dan takut bunyinya kedengaran orang, tinggal ada pencetlah tombol itu. Kalau suaranya mau dihentikan tinggal pencet stop yang ada di sebelahnya. Canggihnya lagi ada pengatur volumenya lagi. Terus di sebelahnya ada tombol untuk penyiram air untuk membersihkan bagian tubuh. Tekanan airnya juga bisa diatur, itu di gambar ada tulisan water pressure, sama satu lagi adalah fasilitas deodorizer. Selama di sana gak pernah nyoba, jadi gak tahu betul apa gunanya. Tapi walaupun begitu, kalau dibandingin sama kloset yang saya dapat waktu di host family, kloset yang di gambar masih lebih mending. Waktu di host family saya dapat kloset dengan tombol lebih banyak, alhasil saya terpaksa cari kamar mandi yang lain karena gak ngerti dengan mekanismenya. Satu hal luar biasa lagi mengenai kloset di Jepang adalah, klosetnya bisa buka sendiri kalau ada orang masuk ke kamar mandi. Coba bayangin, sesak BAB tengah malam, masuk kamar mandi, eh klosetnya buka sendiri. 

Selain kloset ini, ada satu jenis kloset lagi. Kloset yang khas Jepang. Makainya jongkok kayak kloset di Indonesia, tetapi kita menghadap ke lubang. Kalau anda search di google mungkin bisa dapat gambarnya. Kesannya sih memang menjijikkan ya, tapi kalau dipikir-pikir sebenarnya lebih bersih, karena gak bakalan ada percikan air kloset kena ke tubuh. Yah, mungkin sebaiknya gak usah terlalu dibahas kali ya. Karena kebetulan lagi bahas toilet, sekalian saya mau komplen soal toilet Narita, lumayan bau dan jorok. 


Hmm, ini ada beberapa foto lagi. Maaf kalau kurang memuaskan, saya gak pengalaman foto jalan-jalan.

Tong sampah di Airport Narita
Jalan yang timpa-timpaan. Paling yang ini ada empat.
Itu aja kali ya dulu cerita mengenai Jepang, sebenarnya masih ada banyak lagi yang bisa diceritain. Saya juga mau minta maaf karena berbagi ceritanya kelamaan. 

Wassalamualaikum!